Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Materi Akidah Akhlak Kelas 11 Bab Ilmu Kalam dan Peristiwa Tahkim

Sejarah awal munculnya Ilmu Kalam adalah sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW, yang kala itu muncullah persoalan di kalangan umat Islam mengenai siapa yang hendak menjadi pengganti Nabi (Khalifatul Rasul). Hal tersebut kemudian diatasi dengan diangkatnya Abu Bakar As-Shiddiq sebagai khalifah. Ilmu kalam sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri disebutkan untuk pertama kali pada masa khalifah Abbasiyah, al-Ma'mun (w. 208 H), setelah ulama-ulama Mu'tazilah mempelajari kitab-kitab filsafat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dipadukan dengan metode ilmu kalam.

Ilmu kalām adalah disiplin filsafat mencari prinsip-prinsip teologi Islam melalui dialektika. Dalam bahasa Arab perkataan ini secara harfiah bermakna "kata-kata". Seorang cendekiawan kalam digelari sebagai seorang mutakalim

Materi Akidah Akhlak kelas 11 bab Ilmu Kalam dan Peristiwa Tahkim

Menurut istilah, peristiwa tahkim dimaknai sebagai persetujuan antara kedua belah pihak yang berselisih untuk menerima keputusan tertentu dalam menyelesaikan perselisihan mereka. Peristiwa tahkim yang terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah memegang peranan penting dalam sejarah politik pemerintahan Islam.

Ilmu Kalam adalah Ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan (agama islam) dengan bukti-bukti yang yakin. Ilmu Kalam adalah Ilmu yang membahas soal-soal keimanan yang sering juga disebut Ilmu Aqaid atau Ilmu Ushuluddin.

Kemunculan Ilmu Kalam dalam Islam berawal dari peristiwa tahkim atau arbitrase antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Perseteruan politik ini tidak hanya memecah belah Islam dalam perkara pemerintahan, namun juga bergeser ke penafsiran teks agama yang melahirkan disiplin Ilmu Kalam

Selain itu ada beberapa fungsi lain ketika mempelajari ilmu kalam. Pertama, keimanan akan jauh lebih kuat karena kebenarannya tidak hanya diperoleh secara filosofis tetapi juga secara logisataurasional. Kedua, memberi jawaban atas kegelisahan umat muslim ketika muncul penyimpangan teologi.

Dasar ilmu Kalam ialah dalil-dalil fikiran dan pengaruh dalil fikiran ini tampak jelas dalam pembicaraan para Mutakallimin. Mereka jarang mempergunakan dalil naqli (al-Qur'an dan Hadis), kecuali sesudah menetapkan benarnya pokok persoalan terlebih dahulu berdasarkan dalil-dalil fikiran

Ilmu kalam bertujuan memperkuat keimanan ataupun keyakinan terhadap Allah SWT melalui nalar atau akal.

Ilmu kalam atau istilah bahasa asingnya teologi adalah ilmu yang membahas berbagai masalah ketuhanan dengan pemahaman akal manusia. Seorang yang ahli dalam ilmu Kalam disebut sebagai seorang mutakallimin (ahli teologi Islam).

Latar belakang munculnya aliran dalam ilmu kalam ada karena faktor internal (seperti Dorongan dan pemahaman Al-Qur'an, dan ersoalan politik). Dan karena faktor eksternal (seperti Masuknya paham-paham keagamaan non-Islam yang mempengaruhi dan ikut mewarnai sebagian paham di lingkungan umat Islam, dan Masuknya filsafat Yunani).

Tahkim adalah penyelesaian perkara. Peristiwa tahkim atau arbitrase adalah upaya perdamaian yang terjadi setelah perang Siffin yang berlangsung sekitar bulan Muharram-Safar tahun 37 H (Mei-Juli 657 M) di Raqqa (sekarang wilayah Suriah). Dalam kejadian ini, Abu Musa Al-Asy'ari merupakan perwakilan pasukan Kuffah, yakni pasukan Ali bin Abi Thalib R.A. Selanjutnya, Amr bin Ash merupakan perwakilan dari pihak Syam, yakni pasukan Muawiyah. Kedua perwakilan tersebut melakukan perundingan untuk menyelesaikan pertikaian. Kedua pihak sepakat untuk memberikan pendapat sesuai dengan Al-Qur'an dan hadits.

Pada awalnya, sekitar 6 bulan setelah perang Siffin, delegasi Ali bin Abi Thalib R.A. dan Muawiyah bin Abu Sufyan sepakat mengadakan pertemuan di Kota Daumatul Jandal yang secara geografis terletak di antara Madinah dan Damaskus. Pertemuan orang tersebut digagas oleh Amr bin Ash yang merupakan delegasi Muawiyah setelah pasukannya terdesak dalam peperangan. Delegasi Ali bin Abi Thalib R.A. berjumlah 400 orang dan dipimpin oleh Abu Musa Al-Asy'ari. Sebagian di antaranya merupakan para sahabat Nabi Muhammad Saw. Delegasi dari Muawiyah juga berjumlah 400. yang dipimpin oleh Amr bin Ash. Sebagian dari mereka pun merupakan sahabat Nabi Muhammad Saw.

Pada mulanya, kedua belah pihak merekomendasikan siapa yang pantas mengemban amanah kepemimpinan Islam menurut pihak masing-masing. Akan tetapi, keduanya tidak menemukan mufakat. Pada akhirnya, Abu Musa Al-Asy'ari menyarankan untuk mencabut jabatan kepemimpinan Islam yang dipegang oleh Ali bin Abi Thalib R.A. dan Muawiyah terlebih dahulu. Setelah itu, menyerahkan pemilihan pemimpin kepada umat yang ada pada saat itu. Pandangan tersebut dinilai iebih efektif dan kemudian disetujui oleh Amr bin Ash. Selanjutnya, keduanya berjalan ke tengah para hadirin yang sedang menunggu hasil perundingan (tahkim). Amr bin Ash sudah sejak awal meminta dan mendorong Abu Musa Al-Asy'ari untuk berbicara terlebih dahulu di depan hadirin dengan alasan beliau lebih dahulu masuk Islam dan faktor usia yang lebih tua. Permintaan tersebut telah diduga oleh Ibnu Abbas sebagai siasat dari Amr bin Ash. Ibnu Abbas pun mencoba menasihati Abu Musa agar tidak berbicara sebelum Amr bin Ash. Akan tetapi, Abu Musa tidak menghiraukannya.

Akhirnya di depan kedua belah pihak yang berjumlah 800 orang, Abu Musa Al Asy'ari mengumumkan: "Kami berdua telah mencapai kesepakatan yang terbaik untuk umat, yaitu masing-masing dari kami terlebih dahulu akan memakzulkan jabatan Aii bin Abi Thalib R.A. dan Muawiyah dari kepemimpinan Islam. Setelah itu, kami menyerahkan kepada umat Islam untuk memilih pemimpin terbaik. Dengan ini, saya menyatakan telah memakzulkan Ali bin Abi Thalib R.A. sebagai pemimpin."

Akan tetapi, ketika giliran Amr bin Ash yang seharusnya memakzulkan Muawiyah, dia justru mendeklarasikan kepemimpinan Muawiyah sebagai pemimpin Islam yang sah, karena Ali bin Abi Thalib R.A. sudah dianggap lengser dari jabatan setelah pengakuan Abu Musa di awal tadi. Pendukung Ali bin Abi Thalib R.A. pun merasa kecewa atas pernyataan Amr bin Ash tersebut, karena tidak sesuai dengan perjanjian dengan Abu Musa Al-Asy'ari.

Kejadian ini menyisakan kekecewaan bagi pihak Ali bin Abi Thalib R.A. Sebaliknya, pihak Muawiyah merasa bahagia. Pada akhirnya, pendukung Ali bin Abi Thalib R.A. terpecah menjadi dua. Mereka merasa sangat kecewa atas keputusan Ali bin Abi Thalib R.A. karena dianggap lemah dan tidak menyelesaikan perselisihan berdasarkan ketentuan Al-Qur'an. Mereka yang keluar dari barisan pendukung Ali bin Abi Thalib R.A. disebut Khawarij. Sedangkan mereka yang merasa terkhianati atas peristiwa tahkim, namun tetap setia mendukung Ali bin Abi Thalib R.A. disebut kelompok Syiah. Adapun kelompok yang tidak memihak kedua-duanya disebut Murji'ah.

Setelah kejadian tersebut, Abu Musa Al-Asy'ari meninggalkan Kota Daumatul Jandal menuju Makkah. Sementara Amr bin Ash dan anggota delegasinya meninggalkan Daumatul Jandal untuk menemui dan memberitahu Muawiyah tentang hasil pertemuan tahkim sekaligus mengucapkan selamat kepada Muawiyah sebagai pemimpin umat. Hal inilah yang melatarbelakangi berdirinya Dinasti Umayyah di Damaskus.

Pelajaran yang bisa diambil dari peritiwa tahkim yaitu teguh memegang prinsip, Berpikir kiritis, Bersikap toleran, bersikap mufakat terhadap hasil musyawarah, Tidak mudah menyalahkan pihak lain, dan Bersikap tawassut.

Menurut istilah, peristiwa tahkim dimaknai sebagai persetujuan antara kedua belah pihak yang berselisih untuk menerima keputusan tertentu dalam menyelesaikan perselisihan mereka. Peristiwa tahkim yang terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah memegang peranan penting dalam sejarah politik pemerintahan Islam

Pada masa Siapa terjadinya peristiwa tahkim?

Peristiwa ini terjadi pada saat perang Shiffin antara kubu Ali Ra yang menjabat sebagai khalifah resmi dan kubu Muawiyah yang menjadi oposisi dan menentang kebijakan Ali Ra bisa dikatakan bahwa peristiwa ini adalah puncak rentetan perselisihan yang terjadi di masa pemerintahan Ali Ra selama menjabat sebagai khalifah.

Apa yang terjadi di peristiwa tahkim?

Peristiwa tahkim telah menimbulkan perpecahan di kalangan tentara Ali karena mereka tidak menerima hasil tahkim. Selain itu Ali pun tidak menerima hasil tahkim karena kedua hakam telah menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah Rasul.

Semoga dengan post Materi Akidah Akhlak Tentang Materi Akidah Akhlak Kelas 11 Bab Ilmu Kalam dan Peristiwa Tahkim dapat mempermudah dalam melaksanakan pembelajaran dan dapat dipahami serta diingat lebih cepat daripada harus membaca satu persatu isi bukunya. Terima kasih sudah membaca, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Posting Komentar untuk "Materi Akidah Akhlak Kelas 11 Bab Ilmu Kalam dan Peristiwa Tahkim"